Sabtu, 25 Maret 2017

Sauce Paranoid

 Di kamar yang kecil nan apik itu, Risa sedang sibuk mengutak-atik smartphonenya. Sesekali senyumnya tersungging membaca komentar-komentar lucu nan menggelitik di Instagram nya sembari earphone bertengger manis di telinganya. Risa saat itu sedang cuti kuliah karena ada urusan keluarga nya yang sangat mendesak. Terkadang,gadis ini merasakan jenuh dan suntuk karena selama cuti dia selalu mendekam di kamar nya. Sulit memang baginya yang dilahirkan dari keluarga yang (terlalu) patuh dan irit. Banyak teman-teman kampusnya maupun teman sekolahnya yang sering mengajaknya untuk sekedar temu kangen maupun hangout tetapi Risa terpaksa dengan halus menolaknya. Tentu saja dengan alasan yang klasik yaitu duit gajinya belum kunjung keluar ataupun sibuk. Soal keuangan,Risa memang selalu irit apalagi pekerjaan part time nya belum bisa memberi gaji yang lebih untuk mahasiswi seperti dirinya. Maklum,pengalaman mengajarnya sebagai guru kursus Bahasa Inggris belum terlalu banyak.

  Di sela-sela keasyikannya,layar smartphone nya kini menerima notifikasi spanduk disertai ikon aplikasi berwarna hijau dari atas layar smartphone nya. Ada pesan baru diterima. Merasa penasaran,Risa segera membuka pesan tersebut dan pesan tersebut hampir saja sukses membuat nya mati di tempat tatkala ia melihat siapa pengirim tersebut. Nico. Laki-laki yang sejak lama ia sukai tapi nyali nya untuk saat ini masih sedikit. Risa bukan lah perempuan yang terlalu agresif tatkala ia berkenalan maupun dekat dengan banyak orang baru apalagi laki-laki bermata kecil itu.
Nico : Risa lagi dimana?
Dengan keadaan jantungnya masih berdegup kencang sekaligus perutnya yang mendadak mulas,ia segera memencet tombol keypad huruf demi huruf.
Risa : lagi dirumah nih,kenapa?
Pesan baru diterima lagi.
Nico : Nonton yuk,mau ga?
 
“What? Serius dia ngajakin gue nonton? Demi apa?!” Risa masih bertanya sekaligus kaget dalam hati. Dia benar-benar tak menduga atas tawaran dari Nico. Risa mulai berpikir-pikir dan mulai memberanikan diri untuk izin kepada ibunya. Kesempatan ini tak boleh dilewatkan,toh belum tentu datang untuk kedua kalinya, pikirnya. Hatinya semakin berbunga tatkala ibunya mengizinkannya untuk sekedar pergi nonton bersama Nico. Tentu saja ia harus sedikit berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan pergi bersama teman sekolahnya. Bisa habis ia didamprat kalau sampai ibu nya tahu dia pergi dengan laki-laki. Risa memang benar-benar nekat dan terpaksa kali ini. Ya,kali ini saja.
Risa : Yuk,mau nonton apa?
Nico : Ada dehh. Udah gih siap-siap. Gue jemput di kafe Queen ya kalau lu udah siap.kabarin aja.
Yes! Risa diam-diam mengepalkan tangannya sembari tertawa kecil.
“Hihi dasar cowok iseng”. Tanpa basa basi,ia segera membuka lemari pakaiannya dan menarik pelan lipatan sweater berwarna double hijau dan kuning di bagian lengannya serta bawahan celana jins berwarna orange lalu dengan cepat mengenakan nya . Polesan bedak tipis serta lipstik berwarna segar muda andalannya tak luput pula dari wajahnya. Beres.perpaduan yang pas. Risa meraih tas lengan hitamnya dan segera meluncur. Di sepanjang perjalanan,pikirannya mengawang kemana-mana memikirkan momen nya nanti bersama Nico. Ah senangnya….Risa mengerang kecil gembira.   Tak sampai 5 menit,dirinya sudah sampai di kafe tersebut. Nuansa kafe yang sederhana namun sejuk tersebut sangat cocok bagi anak muda untuk bersantai ria maupun mereka yang sekedar ingin mencari suasana baru sembari mengerjakan tugas. Disitu beberapa anak sekolah maupun mahasiswa/I terlihat asyik dengan teman-temannya sembari mengerjakan tugas mereka dan tak lupa pula sepasang muda-mudi yang memadu kasih maupun bersenda gurau menikmati siang menjelang sore itu. Sungguh suasana cozy dan nyaman pun masih terasa dari kafe ini. Risa menyapukan pandangannya mencari tempat yang nyaman dan matanya sekarang tertuju pada sofa panjang yang letaknya ada di pojok tak jauh dari meja kasir. Risa segera melipir kesana dan jari-jarinya kini leluasa kembali mengetik dan mengabari Nico bahwa dirinya sudah duduk manis menunggu laki-laki tersebut.
Risa : Gue udah sampe nih,lo dimana?
Nico : Ok,gue otw sekarang.Tunggu ya.
Risa : Okee.

 Rasa grogi mulai menyerang dirinya saat ini. Risa menunggu dengan gelisah sembari memegang dadanya dan menghembuskan nafas pelan. Jantungnya kini semakin berdetak tak karuan. Baru kali ini pula dia menemui langsung laki-laki itu setelah sekian lama mereka hanya kenal dan akrab lewat social media Instagram. 15 menit berlalu,sesekali Risa mengetuk-ngetuk meja hingga akhirnya Nico bilang bahwa dirinya sudah sampai tepat depan kafe tersebut. Risa segera beranjak dari tempatnya dan segera melangkah kecil keluar kafe. Dia melihat sekeliling mencari sosok laki-laki itu. “Risa!” Risa menoleh suara tersebut yang berasal dari sebelah kirinya dan ternyata Nico masih bertengger di atas motornya. Jantung Risa hampir mau copot. Risa berpura-pura tenang menghampiri Nico. Sembari menyunggingkan senyumnya yang kecil,Nico mengisyaratkan Risa untuk segera menaiki motornya dan mereka pun langsung meluncur menuju bioskop.

  Mereka berdua segera melangkah santai menuju bioskop tersebut dan segera mengantri. Sembari menunggu antrian, mereka berdua melihat papan reklame yang menyajikan beberapa film yang sedang tayang. Nico segera membalut kaos hitamnya dengan jaket berwarna abu-abunya. Terlihat keren! “Sa,kita mau nonton ini ga?” sembari menunjuk salah satu film yang sedang tayang,Nico melirik Risa sekilas. Risa melirik film yang dimaksud tersebut dan sontak ia hanya diam dalam bingung. Matanya membelalak sedikit.Ia tidak menyukai film sadis alias thriller. “uhm…yang itu ya? Yaudah deh”. Akhirnya ia mengikuti usul Nico dengan gamang dan pasrah. Mentalnya diuji dan ia sendiri tidak yakin bisa tahan tanpa menutup wajahnya maupun memejamkan mata sekalipun tatkala menyaksikan adegan-adegan sadis nan berdarah itu nanti. Dia harus berani demi Nico. Rusak sudah harga dirinya jika Nico tahu dia adalah seorang penakut. Mereka langsung menuju kasir dan membeli makanan ringan lalu segera masuk ke ruang bioskop. Ruangan bioskop tersebut sudah mulai gelap tanda film akan dimulai. Ruangan itu hanya dibantu oleh cahaya dari layar bioskop saja maupun beberapa lampu kecil yang menggantung disisi anak tangga yang mereka tapakki. Salah seorang petugas yang berjaga tersebut dengan senang hati membantu mereka menaiki anak tangga hingga sampai ke tempat duduk bioskop mereka tatkala melihat Risa tersandung dan hampir tumbang. Ah andaikan Risa memiliki kekuatan menghilang,dia ingin menembus tembok maupun melangkah mundur kearah pintu saja.

 Film sudah dimulai. Baru beberapa adegan saja,Risa sesekali sudah menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Sesekali mengerang pelan yang untungnya tak terdengar oleh Nico. Laki-laki itu malah sibuk dan fokus menatap layar bioskop yang lebar nan besar itu. Risa gelisah sendiri tak sabar menunggu adegan demi adegan itu berakhir. Darah yang mengucur dan bercipratan hingga suara desingan pisau dalam adegan film tersebut membuat nafas Risa naik turun hingga ia menyerah dengan menjerit kaget spontan sembari menyembunyikan wajahnya di bahu Nico. Nico sontak kaget ketika bahunya disandari kepala Risa. “lo kenapa sa? Takut ya sama filmnya?!” Risa hanya menyeringai salah tingkah sembari menggeleng
“hehe enggak,kaget” . Nico mengalihkan pandangannya lagi dengan sedikit cemas takut gadis di sampingnya akan pingsan akibat serangan jantung mendadak. Risa merasakan dadanya sakit dan sesak. Oh, Dia benar-benar mulai mual sekarang. Acara date yang cukup menegangkan. Beruntung nya, film itu sudah selesai dan satu persatu lampu bioskop tersebut mulai menyala. Risa berusaha menyembunyikan ekspresi ketakutan nya meskipun ia merasakan wajahnya mulai memanas dan tubuhnya panas dingin. Ia khawatir Nico akan mengetahui gerak-geriknya bahwa ia phobia.

   Mereka berdua pun memutuskan mampir ke restoran fastfood terlebih dahulu untuk sekedar mengganjal perut. Nico segera melahap burger nya sembari mengolesi makanan itu dengan saos sambal yang ada di meja makan restoran tersebut.Risa baru saja membuka pembungkus putih yang membalut burger nya ketika Nico menyodorkan sebotol berisikan sambal merah yang entah tiba-tiba berubah menjadi cairan merah yang di duga darah di depan mata Risa. “Sa,nih mau sambal ga?” Risa mendadak kaku dan hanya menatap kosong botol itu. Wajahnya berubah menjadi pucat akibat halusinasinya itu. Paranoid mulai menyerang dirinya. “Nic,bisa jauhin botol itu ga? Jangan coba-coba sodorin botol itu ke gue. Gue benci sama benda itu” katanya sedikit parau.Nico hanya mengernyitkan dahi.Dia kembali menunduk hendak berkonsentrasi dengan makanannya. Tapi gagal,ia mulai merasakan pelupuk matanya mulai berair dan pandangannya sedikit kabur. Kepalanya mulai pening hebat. Perlahan-lahan pandangannya mulai menghitam dan akhirnya semua menjadi gelap. BRUK! Risa ambruk tanpa tanggung-tanggungnya. Uh! Nico benar-benar jahat!

Sabtu, 01 Oktober 2016

Agama

Seperti yang kita ketahui,agama merupakan suatu ajaran yang dianut oleh masing-masing individu guna menjadi pedoman hidup. Agama merupakan hubungan manusia dengan Tuhannya yang berisikan tentang kehidupan dunia dan alam kekal (akhirat). Saat ini,agama sudah berkembang pesat di seluruh belahan dunia. Di Indonesia,hanya ada 6 agama saja yang diakui,yaitu : Islam,Kristen,Katolik,Hindu,Buddha,dan Konghuchu. Seiring bertambahnya agama di seluruh belahan dunia,tetapi mereka yang menganutnya mempunyai nama panggilan yang berbeda untuk Tuhan masing-masing yaitu,Islam:Allah SWT,Kristen dan Katolik: Bapa,Roh Kudus,Jesus,dsb. Hindu dan Buddha : Sang dewa-dewi. Meskipun begitu,mereka hanya mengakui bahwa Tuhan itu hanya satu. Tuhan tidak dapat digandakan. Tetapi,masih banyak sebagian negara yang memilih menjadi Atheis maupun Agnostik. Dua kepercayaan ini hampir sama tetapi mempunyai definisi yang sedikit berbeda. Atheis yaitu seseorang yang tidak mempercayai adanya Tuhan sedangkan Agnostik yaitu seseorang yang tidak mempunyai keyakinan tetapi dia masih percaya akan adanya Tuhan. Masih banyak sebenarnya agama-agama lain di dunia ini misalnya saja agama Sintho,Yahudi,dan Sunda wiwitan menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Walaupun begitu,pemeluk 6 agama terbesar di Indonesia cenderung lebih banyak dianut dibandingkan agama lain yang katanya tidak resmi di Indonesia. Untuk agama Sintho,ajaran tersebut hanya dianut oleh warga negara Jepang tetapi mereka juga sekaligus memeluk agama Buddha karena dua agama tersebut merupakan ajaran yang rata-rata didatangkan dari negara Asia khususnya Buddha dan Konghuchu (yang berasal dari Tiongkok). Berikut beberapa ajaran agama berdasarkan asal negara penyebarannya :

1. Islam,yaitu didatangkan dari Asia Tenggara,Afrika Utara,Asia Barat, dan Asia Tengah. Agama ini berpedom pada kitab suci Al-Quran dan Nabi Muhammad sebagai tauladannya.

2. Kristen,yaitu berasal dari negara Eropa Barat. Agama ini berpedom pada kehidupan dari ajaran Yesus dan Nazaret (abad ke-1) yang disajikan dalam Perjanjian Baru. Mereka yang berasal dari Iman Kristen umumnya percaya pada tritunggal yaitu Bapa,Anak (Yesus Kristus),dan Roh kudus sebagai tiga pribadi dalam satu ketuhanan.Namun,terdapat kelompok kecil lainnya yang dimasukkan ke dalam Kristen yaitu,Saksi-saksi Yehuwa dan Gerakan Orang Suci Zaman Akhir yang terkadang masih diperdebatkan.

3. Hindu,didatangkan dari India. Hindu adalah filosofi tentang Vaishnavisme , Shaivisme, dan kelompok-kelompok terkait dipraktikkan atau didirikan di anak benua India. Kebanyakan mereka berbagi dalam praktik umum yaitu karma,kasta,reinkanarsi,mantra,yantras,dan Darsana. Hindu bukanlah agama monolitik tetapi kategori agama yang berisi puluhan filosofi terpisah digabung sebagai Sanatana Dharma, yang merupakan nama dari Hindu yang telah dikenal sepanjang sejarah oleh para pengikutnya.

4. Buddhisme didirikan oleh Siddhartha Gautama pada abad ke-6 SM. Buddha umumnya sepakat bahwa Gotama bertujuan untuk membantu makhluk hidup mengakhiri penderitaan mereka (dukkha) dengan memahami hakikat fenomena, sehingga melarikan diri dari siklus penderitaan dan kelahiran kembali (samsara), yaitu mencapai Nirvana.

Kesimpulan dari tulisan saya ini,tak peduli apapun agama mereka dan kepercayaan mereka. Yang terpenting mereka merasa tenang dan damai selaku pemeluknya. Di dunia ini mereka dibebaskan untuk beragama ataupun tidak.Meskipun begitu,mereka tetap bisa hidup berdampingan secara damai walaupun berbeda.

Minggu, 14 Agustus 2016

Rindu bukanlah jenuh

            Aku menyeruput segelas susu putihku diiringi segigit biskuit coklat hingga kulahap hingga habis. Tatapanku menerawang kosong. Tatapanku hanya tertuju pada benda-benda yang terpampang di depan mataku. Di meja kecil ruang tamu ini. Pikiranku mengawang pada satu hal,satu hal yang menurutku penting dan bagiku satu hal itu layaknya nafas untuk kehidupanku. Aku merindukan sosok lelaki geradakan itu,pasti pagi ini dia sudah disibukkan lagi dengan pekerjaannya yang mengharuskan beraktivitas dan siap siaga di tempat terbuka. Dari pagi menuju malam pun,dia masih kuat untuk mencari penghasilannya sendiri dari penumpang demi penumpang. Sedangkan aku,saat ini belum ada satupun lembaga tempatku melamar yang mengatur waktuku untuk mulai bekerja. Wajar,aku resah sekaligus jenuh menunggu kepastian dari para lembaga itu,tak hayal aku selalu merengek meminta kasih sayang dari si sosok geradakan itu. Namun percuma,kesibukkan nya yang hampir memakan waktu cukup lama hingga seharian membuat dia tak mampu lagi untuk sekedar berbagi kasih sayang dan melampiaskan rindunya itu untukku barang semenit ataupun sejam saja.Aku memang sedikit dongkol dan jenuh,lagi-lagi aku harus memaklumi kesibukkan nya dan harus belajar terbiasa dengan segala kesibukkannya itu. Berkeliling dari sudut kota ke tempat lainnya hingga ia jarang mengirimkan pesan manisnya untukku. Dia pernah bilang seminggu menjelang lebaran dulu kalau dia pasti akan sibuk setelah lebaran karena akan mencari pekerjaan,aku menyanggupi nya "iya gapapa kok asal ga lupa sama aku ya". Ternyata hal ini memang benar-benar terjadi dan jauh dari ekspetasiku dan prakiraanku bahwa pasti pekerjaannya tidaklah berat dan kemungkinan ada waktu bersantai untuknya. Prakiraanku salah,kesibukannya lebih dari pil pahit yang harus aku telan dan baginya pekerjaan yang hampir memakan waktu 24jam ini sangat tidak mudah hingga tenaganya habis. Karena itu,kami pun sampai pernah bertengkar hebat hanya masalah sepele. Ini semua disebabkan oleh egoku,ego kami, dan dari masalah itu sepenuhnya salahku. Aku tidak mau tahu seperti apa kesibukkannya disana,aku terus merengek untuk minta bertemu. Memang sungguh dahsyat cobaan hubungan kami kali ini,belum lagi jarak. Hubungan kami hampir dipertaruhkan dan dikorbankan akibat dia yang sudah lelah menghadapi egoku ini dan beruntungnya aku masih ingin bertahan dan berakhir dia yang luluh atas permohonan maaf ku. Hatiku rasanya hampir hancur saat itu. Tapi syukurlah,semua kembali berjalan normal dan aku mencoba dengan setia menunggu kesibukannya itu hingga dia bisa meluangkan waktunya walaupun tak banyak untukku. Percayalah,aku tak pernah bosan mengulang kata-kata rindu ini kepadanya. Aku masih percaya dengannya disana...yang berusaha mewujudkan mimpi kami. Toh,jika dia memang benar-benar tak mencintaiku,dia takkan sanggup bertahan hingga saat ini.  Aku masih percaya rasa cinta dan kasih sayangnya pada ku tidak akan pernah pudar apalagi hilang sekejap begitu saja dari hatinya. 

 

Aku takkan pernah jenuh untuk mengulang kata rinduku padamu,I love you so much and i will stay beside you as you wish , Nich. 

                                                                                      

Dari aku yang merindukanmu di kota kecil nan amburadul ini

-Tiko-

 

Selasa, 02 Agustus 2016

Dia hati terdekatku

 

 

Sore diselimuti bau tanah dan langit yang sedang kusam saat itu tatkala gerimis turun membasahi bumi perlahan. Aku baru saja selesai menghadapi UAS tepatnya hari ke 4 sembari duduk di halte menunggu sosok teduh itu. Kendaraan hilir mudik membuatku sedikit pusing dengan penglihatan lewat kacamataku. Aku masih menoleh kanan kiri mencari keberadaan laki-laki berhidung mancung dan bermata teduh itu sembari sesekali mengecek ponsel ku takut sewaktu-waktu dia sudah sampai sedari tadi tanpa aku sadari. Sudah cukup lama,sekitar beberapa menit aku menunggunya. Kami membuat janji hari ini untuk bertemu melampiaskan rasa rindu masing-masing. Aku merenungmengingat momen sekitar beberapa minggu yang lalu tepatnya. Kala itu,kami berkeliling mengitari kota kecil ini hanya untuk …. Ya apalagi selain ingin melampiaskan rasa rindu yang sudah memuncak ini. Diiringi dengan deru motornya,kami melempar canda tawa dan bercerita tentang pengalaman kami yang mungkin tidak terlalu menarik alias garing. Refleks,sesekali aku merangkulnya dari belakang hingga merasakan dadanya yang hangat dan bidang. Aku benar-benar sumringah saat itu seharian bersamanya. Aku senang dan merasa damai mencium wangi parfumnya yang lembut. Hari semakin terik dan menyengat,kami memutuskan untuk beristirahat di salah satu masjid yang ada di komplek perumahan yang tidak terlalu ramai. Kami mulai memasukki masjid dan menyenderkan tubuh kami di dinding masjid . di sebelah nya terdapat rak yang berfungsi untuk meletakkan buku-buku tentang hadits,tata cara ibadah,dan kitab suci Al-qur an. Tubuhku perlahan-lahan mulai sejuk di terpa semilirnya angin kipas angin yang berada di masjid tingkat dua itu. Dia menatapkuaku merasakannya dari ekor mataku. Aku malu untuk menatap kembali mata teduh nan tajam itu. Jantungku berdegup kecil. Kepala nya mulai menyender di bahuku dan tangan kokoh itu mulai merangkul pinggangku. Aku mulai merasakan hangat wajahku. Aku tersipu tetapi tak dapat ku pungkiri bahwa pelukan dari tangan kokoh itu membuatku merasa nyaman hingga aku hanya bisa terdiam merasakan tangannya yang kokoh itu. Tangannya sangat kuat mencengkram pinggangku. Aku mulai menyeletuk mencoba mencairkan suasana“eh disini ada cctv hati-hati aja hahahadia hanya tersenyum kecil gaada kok pas diliat tadi,ancaman doang ini mah” . Aku sedikit ragu jangan-jangan perlakuan kami disini sedari tadi terekam oleh cctv. Haft…aku sedikit takut sekarang. “oke,pasti mereka beranggapan kok kalau kita udah nikahkataku diiringi tawa geli. Dia hanya tertawa kecil. Aku sumringah,kami ini baru dalam tahap pengenalan. Belom tentu ada rencana ingin melanjutkan ke tahap yang lebih serius. Kepala nya masih menyender di bahuku. Wangi rambut nya otomatis terhirup oleh hidungku. Wangi nya segar nan tenang. Wangi itu hingga kini masih melekat di pikiranku hingga mengalir ke darahku. Wangi khasnya. Dia mulai mengangkat kepalanya dari bahuku dandia langsung memelukku. Dia pernah bilang bahwa dia nyaman memelukku. Nyaman? Atau  lebih dari itu? Takut akan kehilanganku kah? Aku merasakan kepalaku menyender di dadanya yang bidang dan hangat itu. Refleks,telingaku menempel di dadanya sehingga aku mulai merasakan degup jantungnya itu… yang entah kecepatan berapa menit/detikah. Degup jantung nya yang menggetarkan gendang telinga ku. Pelukannya yang eratdan pernyataan dari mulutnya “you love me too?” aku hanya mengangguk pelan. Rayuannya sukses membuat ku detik itu rasanya tak sanggup berpisah dengannya barang sedetikpun atau seharipun.Di mataku saat itu,dia sungguh berarti dan sosok yang hampir sempurna. Aku tak ingin beranjak dari tempat itu. Tak peduli sudah berapa lama kami disini menghabiskan waktu berdua. Berdua saja. Hanya Tuhan yang tau sesuatu di antara kami. Di tempat ini. Di hadapan Tuhan selaku Tuan rumah. Oh,Aku tak ingin pulang!

Kamis, 19 Mei 2016

Bule time


Bule Time

Rabu kemarin kebetulan saya sedang libur UTS. Ketimbang rasa jenuh ini mulai menyerang dan membuat penjara hampa untuk saya,saya memutuskan untuk pergi ke Kota Tua yang berada di Jakarta Kota bersama seorang teman saya. Kami pun langsung berangkat dari rumah saya pukul 10 pagi tetapi kami tidak langsung meluncur ke stasiun Bekasi,melainkan ke kampus karena teman saya ingin melakukan daftar ulang semester. Kami baru mulai berangkat sekitar pukul 12.15 wib dari kampus kami menuju St.Bekasi . Sesampainya di St.Bekasi,kami langsung memarkir kan motor kami dan segera mengantri di loket tiket untuk membeli tiket tujuan St.Jakarta Kota. Setelah selesai membeli tiket,kami berjalan menuju peron kereta sambil sesekali melirik kearah kereta datang. Kereta pemberangkatan menuju Jakarta Kota pun datang,kami segera melangkahkan kaki kami dan melesat cepat masuk ke dalam kereta. Saat itu,kereta masih sepi dikarenakan orang-orang yang sibuk itu sudah berangkat sejak pagi dan tentunya beruntung kami dapat tempat duduk. Cuaca saat itu sangat panas dan kami belum mengisi perut kami siang itu. kereta pun berangkat dan mulai melesat pelan melewati stasiun demi stasiun. Saya tidak merasakan sama sekali kantuk sejak satu jam perjalanan tidak sabar ingin meliput bule dari berbagai Negara ditambah saya sedikit cemas ketika teman saya mulai menyeletuk “Kalo kita kesana gaada bule,gimana dong?” saya sedikit kesal mendengar celetukannya “yakali,pasti ada kok tapi ga banyak kalo hari biasa”. Singkat cerita selama satu jam perjalanan itu,kami pun sampai di St.Jakarta Kota dan kami langsung melangkah cepat keluar dari kereta dan langsung menyebrang menuju Taman Museum Fatahilah. Siang itu,suasana sekitar museum itu cukup ramai dan memang,saya tidak banyak menemui bule berkulit putih maupun berambut pirang itu. Terik matahari yang menyengat ini tak menyurutkan semangat kami untuk berkeliling dahulu di Museum Fatahilah,kami berjalan memasukki bangunan museum yang konon dahulunya adalah bangunan Gereja milik Belanda.  Sebenarnya,kami sudah pernah mengunjungi museum ini tetapi ini kunjungan kedua kali bagi saya. Setelah puas kami berkeliling mengelilingi tiap sudut bangunan museum itu,kami langsung berkeliling lagi mencari objek wisata yang sekiranya cukup menarik. Di sekitar orang-orang berkostum unik melayang lucu itulah,saya menemui segerombolan bule berkulit putih . Tanpa berpikir panjang lagi,saya langsung menghampiri segerombolan bule berpostur tinggi itu dan meminta mereka untuk saya wawancarai singkat. Berikut ini segelintir percakapan saya dengan mereka. Berawal saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu.
Saya : “So,what’s your name?” (Jadi siapa nama kalian?)
Pria bule itupun menjawab dengan tatapan ramah sembari memperkenalkan teman-temannya juga.
Jefril : “My name is Jefril,and she is Sheera and Thier” (Nama saya Jefril,Sheera,dan Thier)
Saya : “And where do you come from ?”(Dan kalian berasal dari manakah?)
Jefril : “I’m come from Switzerland,America (Sheera),and Belgian (Thier)” (Saya berasal dari Switzerland,Amerika,dan Belgian)
Saya mendadak bingung dan pikiran saya blank karena grogi melihat mereka terlihat menunggu pertanyaan selanjutnya dari saya.
Saya : “uhm,Have you ever come to Indonesia especially Jakarta?” (Apakah sebelumnya kalian pernah ke Indonesia terutama Jakarta)
Jefril : “Yes,I live in Jakarta and this is my friends visiting” (Ya,saya tinggal di Jakarta dan teman-teman saya ini sedang berkunjung)
Saya : “Have you ever visit any town in Indonesia?” (Pernahkah kalian berkunjung ke kota lain di Indonesia?)
Jefril : “Yes,I had ever visited to Surabaya,Jogjakarta,Bali. Oh,Jogjakarta not yet,but soon” (Ya,saya pernah berkunjung ke Surabaya,Jogjakarta dan ,Bali. Oh,saya belum pernah ke Jogjakarta tapi lain waktu)
Saya : “How long do you stay in here?” (Berapa lama kalian tinggal disini?)
Jefril : “I’ve been live in here for 5 months,and they will two weeks and they are come yesterday” (Saya tinggal disini selama 5 bulan dan mereka akan tinggal selama dua minggu. Mereka baru datang kemarin)
Saya : “What do you think about Indonesia?” (Apa pendapat kalian tentang Indonesia?)
Jefril : “The people are friendly and they like take a picture with us.we like a movie stars (sembari tertawa) and the food is very delicious. Makan enak-enak” (Bule ini mengeluarkan logat Indonesia nya yang masih medok). (“Orang-orangnya sangat ramah dan suka berfoto bersama kami. Kami seperti bintang film. Dan makanannya juga enak”.)
Saya : “What’s the most favorites your food?” (Apa makanan terfavorit kalian?)
Jefril : “Martabak” (sembari tersenyum diiringi tawa Sheera)


Percakapan singkat kami pun berakhir dan saya basa-basi memintanya untuk berfoto bersama. Saya pikir tidak etis rasanya jika bertanya lebih banyak lagi soal pribadi mereka masing-masing. Maka itu,kami pun berpamitan dengan segerombolan bule itu. Saya pun mulai lega liputan saya berakhir dan kami pun langsung bersantai ria sembari menuju kedai makanan yang tak jauh dari lokasi kami berada. Setelah puas menikmati ramainya suasana sekitar Museum Fatahilah,kami memutuskan untuk pulang pada pukul 15.00 wib. Kami langsung menuju loket stasiun untuk mengisi ulang tiket perjalanan kami ke Bekasi. Perjalanan memakan waktu 5 jam menuju Bekasi. Kami mulai merasa letih dan lesu berdiri dikelilingi hiruk pikuk nya suasana kereta itu yang mulai ramai. Walaupun begitu,saya benar-benar lega karena perjalanan kami meliput bule tidak sia-sia.